Senin, 24 November 2014

Evaluating to improve Resource Allocation: Family Planning and Fertility in Indonesia



Seperti telah kita ketahui, Indoneisa telah menjalankan program Family Planning atau Keluarga Berencana (KB) sejak tahun 1970-an. Hal ini diikuti dengan penurunan secara signifikan angka fertilitas. Diyakini selama ini (saya pun demikian) bahwa investasi di dalam artian pengalokasian anggaran di bidang KB berpengaruh secara signifikan kepada keberhasilan Indonesia di dlaam menekan pertumbuhan angka penduduk tersebut.

Namun saya baru membaca dari paper yang ditulis oleh Gartler dan Molyneaux 1994, 2000, bahwa sekolompok ilmuwan meneliti untuk membuktikan bahwa apakah program KB berhasil menurunkan angka pertumbuhan penduduk di Indonesia. Hasilnya, berlawanan dengan yang diyakini selama ini, program KB hanya berpengaruh sedikit terhadap penurunan angka fertilitas ini.Ditemukan bahwa perubahan pada status kaum perempuan di Indonesia lah yang dapat emnekan jumalah kelahiran. Para ilmuwan mengatakan, bahwa sebelum Program KB dilaksanakan, hanya sedikit kaum wanita Indonesia yang menyelesaikan pendidikan dasar nya. Di saat bersamaan Pemerintah secara besar-besaran meningkatkan pendidikan untuk anak perempuan. Ketika banyaknya kesemapatan di sektor industri di Indonesia, kaum wanita yang emngenyam pendidikan memperoleh kesemapatan untuk berkarir di luar rumah. Mulai banyak nya wanita yang berkarir, emnyebabkan tingginya penggunaan alat kontrasepsi. Disimpulkan, bahwa kesempatan kerja yang lebih tinggi pada kaum perempuan dan pemberdayaan perempuan berpengaruh terhadap penurunan angka fertilitas sebesar 70%.

Evaluasi ini akhirnya dapat menginforamsikan kepada pemegang kebijakan pada saat itu untuk mengalihkan alokasi penganggaran dari subsidi alat kontrasepsi ke peningkatan pendidikan bagi kaum perempuan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa peran pendidikan sangat penting bagi penurunan angka kelahiran yang dalam jangka waktu lama juga dapat berkontribusi kepada penurunan Angka Kematian Ibu.

NOTE to myself as a maternal health practitioner !!

Minggu, 17 Februari 2013

Unforgettable Timor-Leste

Seumur hidup saya tidak pernah bermimpi atau mengidamkan suatu saat bisa menjejakkan kaki di bumi Timor Lorosae atau Timor Timur. Sejak jaman SD dan mengenal bahwa Timor Timur adalah provinsi ke 27 NKRI, di benak saya Timor Timur adalah sebuah provinsi yang jauh dan juga kurang maju. Sedangkan ketika saya masih kecil/remaja impian saya adalah tinggal di kota besar dimana saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Terlebih ketika situasi di Timor Timur pra referendum yang bergolak, saya bergidik membayangkan kengerian yang ada disana. Ketika akhirnya setelah referendum rakyat Timor Timur memutuskan berpisah dari Indonesia, saya sempat sedih, tapi akhir nya semua nya terlupakan sejalan dengan waktu.

Singkat cerita sepulang dari Jerman pada tahun 2010 lalu, saya luntang lantung tidak punya pekerjaan. Lamaran dan CV sudah saya kirimkan kesana kemari tapi belum ada yang positif. Sempat bertekad untuk bergabung sebagai staf pengajar di almamater saya (berapapun gajinya) saya pikir waktu itu.

Tapi memang semua nya sudah tertulis dari Yang Maha Kuasa. Suatu hari seorang sahabat saya (caro mio), atau sayang ku dalam bahasa Italia mengirimkan sebuah link tentang lowongan sebagai reproductive health technical specialist di suatu International NGO di Dili, Timor Leste. Seperti yang telah saya tulis di tulisan sebelumnya, saya malas-malasan untuk mengirimkan lamaran tersebut. Niat saya ketika waktu itu mengirimkan lamaran adalah menghargai il caro mio.

Lalu tak dinyana akhirnya saya diterima. Hmm, senang dan panik. Senang karena setelah hampir 3 bulan menganggur dan tanpa pemasukan akhirnya saya akan memperoleh gaji lagi (dalam US Dollar pula) dan akan merasakan pengalaman sebagai ekspatriat :D. Panik nya, owh ini kan Timor Leste, bukan Eropa. Saya sering bepergian ke luar negeri seorang diri tapi biasanya negara-negara maju yang semua nya sudah serba pasti dan teratur. Tapi ini sebuah negeri yang baru merdeka dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun dan masih mengalami pergolakan dalam negeri sebagai sebuah negara baru.

Saya membulatkan tekad, I have to try !!!! itu dalam hati saya. Setelah bertemu dengan mantan atasan saya yang amat baik Pak Lucas Pinxten, beliau berkata: just go for it!! that's the opportunity for a life time. Akhirnya OK, I'll go. Lagian cuma 4 bulan ini.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah sebelumnya berpusing-pusing mencari itenary menuju Dili. Dua tahun lalu, cara untuk menuju Dili adalah lewat Dempasar dan terus dari Denpasar kita menuju Dili. Tidak terlalu lama penerbangan nya. Hanya saja penerbangan dari Denpasar ke Dili hanya dilayani oleh 2 maskapai: Merpati Airlines dan Batavia Air (yang baru saja almarhum). Dan kedua penerbangan ini hanya terbang di waktu pagi hari. Hingga kalau saya mengejar pesawat dari Bandung, sulit terkejar.

Gambar ini adalah gambar sepanjang perjalanan dari bandara ke kos-an

Tepat tanggal 15 Januari 2011, saya tiba di Nicolao Lobato Airport, dulu pas jaman RI dikenal sebagai bandar udara Comoro karena memang terletak di daerah Comoro. Di sana boss saya sang Country Director yang cantik sudah menunggu. Saya keluar agak lama dari petugas kontrol karena saya belum mengisi kartu kedatangan. Oh iya, untuk masuk ke Timor Leste ini kita bisa menggunakan visa on arrival. Biaya nya USD 30 untuk 30 hari kunjungan. Kita bisa meng convert nya setelah tiba di Timor dengan visa kerja atau Special Stay. Tepat pukul 13.00 akhirnya saya meninggalkan bandara Comoro diantar oleh Dominique (sang boss) ke tempat kos saya di Dili. Disana saya tinggal bersama 2 orang gadis expatriates lain nya, yang satu berkebangsaan Jepang dan satu berkebagsaan Portugal.


Di depan kos an saya disambut seekor anjing dan di teras sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran Timor Leste. Lelah sekali akhir nya saya tidur tak lama setelah saya sampai, eh sebelumnya saya pergi ke supermarket sendirian untuk beli beberapa keperluan. Di sini transportasi yang available adalah sejenis angkutan kota dan taksi. Saya memilih taksi, yang biasanya harganya antara 1-2 USD.

Di hari pertama saya di Dili, saya berkenalan dengan tamu room mate saya, seorang pemuda Timor yang mengenyam pendidikan di Indonesia. Kami berbincang dalam Bahasa Indonesia. Di sini hampir semua orang masih bisa atau setidaknya mengerti Bahasa Indonesia.


Kamis, 23 Desember 2010

For Love or Money


Seperti lagunya Mary McGregor : Torn Between Two lovers, itulah yang saya rasakan saat ini. Bukan lovers dalam arti sesungguhnya (FYI saya penganut monogami sejati he he). Tapi saat ini saya dihadapkan pada keadaan dimana saya harus kembali memilih dan berkompromi.

Selulusnya dari studi saya September lalu saya memang memutuskan terjun didunia akademis (in the name of research and science) sehingga saya pun mencoba menawarkan sedikit pengetahuan saya ke sebuah universitas, dan alhamdulillah mesti masih berstatus dosen tidak tetap namun saya dapat tempat juga disana. Saya pun tidak lantas berdiam diri, sebuah paper kroyokan bersama kakak kelas dan supervisor saya yang berkaitan dengan topik tesis kami juga berhasil saya selesaikan dan berharap segera dapat diterbitkan. Berpuluh-puluh jurnal dan buku saya unduh untuk tetap membuat otak saya tidak beku (you will never stop learning, kata salah satu profesor saya kemarin). Perjalanan tidak berhenti disini, errr I need something for living, dan jujur status baru saya ini belum memberikan kenyamanan secara finansial namun saya bertekad akan tetap berada di jalur ini.

Bulan Oktober yang lalu kepercayaan diri saya sedang berada dititik terbawah. Pada bulan itu sekembalinyake tanah air saya sempat merasa tidak berguna, karena susah nya mencari pekerjaan di Indonesia. Universitas yang saya lamar, waktu itu belum memberi sinyal-sinyal menggembirakan meski sang Dekan menyatakan ketertarikan nya merekrut saya. Ditambah rumor-rumor dan realita di lapangan yang seolah menjelaskan " di Indonesia, mereka tidak akan pernah peduli kamu lulusaan luar negeri ataupun jika kamu lulus dari salah satu kampus terbaik di dunia sekali pun, jika kamu tidak punya channel atau kenalan". Well, saya tidak punya channel, saya hanya punya sedikit ilmu dan pengalaman untuk dibagi. Bulan itu saya juga sempat menjadi sangat sensitif di rumah, pertanyaan dari ayah saya soal pekerjaan saya rasakan sangat menusuk dan selalu membuat saya menangis. Seorang staf di sebuah universitas negeri di luar Jawa memberi informasi, kampus itu bisa mempertimbangkan bersedia merekrut saya jika orang tua saya menyiapkan sejumlah uang yang kisaran nya Rp 100 juta. "What's the hell with that,I will never give that bloody money just to make myself working". Itu yang saya katakan pada ibu saya. Sedih sekali saya, serasa perjuangan saya dengan darah, keringat, dan air mata di luar negeri tidak dihargai sama sekali. Tapi saya bertekad tidak akan menyerah pada keadaan.

Akhir bulan Oktober itu, sahabat baik saya dari Italia memberikan sebuah informasi vacancy di sebuah organisasi non profit yang berbasis di Seattle untuk posisi di Timor Leste. Ini sebuah posisi yang membutuh kan pengalaman dan skill yang cukup tinggi di bidang Kesehatan Reproduksi karena mesti membuat sebuah program menurunkan angka kematian Ibu untuk kementrian kesehatan Timor Leste . Terus terang saya sangat malas sekali untuk melamar karena saya sudah tidak tertarik lagi dengan bidang kesehatan reproduksi. Saya tidak tahu mengapa, tapi sejak bulan Januari ketika saya memutuskan akan menulis thesis tentang Dengue, saya jatuh cinta pada penyakit-penyakit tropis khusus nya dengue. Pengalaman saya bergabung dengan sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi membuat pengetahuan saya di bidang kesehatan reproduksi (kespro) dan HIV/AIDS memang telah membawa saya mendapat beasiswa, tapi sejak Januari lalu kisah cinta saya dengan kespro telah resmi berakhir. Hal ini yang membuat saya agak ogah-ogahan dalam mengisi aplikasi lamaran. Akhirnya aplikasi itu saya kirim juga sehari sebelum deadline. Alasan nya saya menghargai orang yang memberi informasi tersebut. I sent it and I forgot it.

Masuk bulan November, nampak ada tanda2 pencerahan. Lamaran saya di sebuah universitas direspons juga. Tugas pertama saya mendampingi ko asisten2 yang sedang field work. Bukan sesuatu hal yang besar, tapi saya cukup menikmatinya. Di "pagi hari" saat saya bangun tidur (ha ha sejak menjadi pengangguran saya sangat menikmati bangun siang), saya membaca email dari organisasi tadi bahwa mereka tertarik dengan CV saya dan menjadwalkan interview. Karena jarak yang tak memungkinkan interview langsung, akhirnya wawancara disepakati melalui skype.

Saya sebenarnya malas. Tidak seperti wawancara-wawancara sebelumnya, saya sama sekali tidak antusias. Saya cuma membaca sekilas tips2 wawancara dengan lembaga asing. Wawancara dijadwalkan sekitar jam 07.30 pagi yang berarti jadwal dimana biasanya saya bangun tidur. Jadilah wawancara pertama dilakukan masih dengan kaos butut dan sebelum menggosok gigi juga (ih jorok banget). Waktu itu sambungan internet dari Timor Leste sangat jelek, sehingga wawancara akhirnya dilakukan melalui instant messanger. I really didn't care about what I said during the interview, tapi sayup2 saya mendengar salah seorang pewawancara mengatakan kepada rekan nya "she is promising", hmm ada harapan tapi saya sudah tidak peduli sama sekali. Selama wawancara saya malah sibuk facebook-an dengan beberapa teman saya.

Surat ucapan terimakasih saya layangkan kepada para pewawancara dan mereka langsung merespons dengan wawancara ke-2. Wawancara kedua dilakukan ketika saya sedang berada di Yogyakarta. Saya juga masih tidak terlalu antusias. Di tengah wawancara, sahabat saya menawarkan sarapan nasi goreng, jadilah saya wawancara kerja sembari sarapan pagi, hihi it was strange, but it was so true.

Wawancara terakhir dilakukan dengan direktur program dari kator pusat di Seattle. Sambungan langsung dari USA ternyata sangat bagus, tidak ada alasan wawancara dilakukan via IM. Saya juga masih tidak peduli dengan jawaban-jawaban saya. Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya jarang menolong orang melahirkan. Who cared if I got the job or not. Kembali sesudah nya email basa basi saya layangkan pada si ibu profesor pewawancara ini, dan tahukah ternyata pewawancara saya ini adalah seorang pengajar senior di Universitas Washington tentang maternal health (jadinya wawancara terakhir serasa ujian).

Beberapa hari kemudian ada email kembali, menyatakan bahwa perjanjian kerja akan segera dilakukan, dan mereka akan mengontak pemberi referensi. Saya agak tegang, tapi sebodo lah, amu dapet syukur, tidak juga tak apa-apa. Saya benar-benar nothing to lose. Yang lucu ketika harus mengisi biodata "past salary history" dalam USD. Saya mengisi bahwa selama setahun gaji saya dulu cuma xxxx USD, mereka mengkonfirmasi ulang bahwa saya harus menulis gaji saya dalam setahun, yah itu memang gaji saya dulu :(.

Dua hari kemudian, sebuah kontrak kerja resmi datang, lengkap beserta detail kompensasi yang akan mereka berikan. It's not too bad (untuk ukuran pemula), tapi berdasarkan saran beberapa rekan saya akhirnya meminta kenaikan 30% dari jumlah yang mereka tawarkan. Sebenarnya alasan utamanya adalah karena saya tidak begitu "klik" dengan bidang ini, tapi apa daya saya butuh uang hiks hiks.

Hari ini deal terakhir disepakati, mereka setuju kenaikan 25% dan saya pun setuju. Tapi diam-diam saya termenung, bagaimana saya akan melakukan pekerjaan ini jika cinta saya telah luntur. Saya selalu orang yang total dalam bekerja. Ketika saya dulu mulai berkarir di bidang Public Health khususnya kespro, saya belajar setiap hari sendiri untuk mendalami bidang ini. Saat ini saya malas untuk kembali membuka-buka buku tentang Maternal Health. Dari kemarin seharian, saya malah membaca buku epidemiologi penyakit infeksi. Saya merasa patah hati bakal menelantarkan hal ini untuk sementara. Setelah tesis yang penuh keringat dan air mata itu, saya makin cinta terhadap dengue. Walalupun nilai ujian saya tidak terlalu bagus, tapi sejak itu saya makin mendalami bidang ini dan tidak terlalu buruk satu joint paper sudah saya kerjakan dan hore yang terpenting saya makin mengerti. Saya tidak tahu kenapa saya jadi jatuh cinta begini. Apakah karena saya pernah jadi korban demam berdarah atau karena pembimbing nya? hehe. Saya tidak tahu jawaban nya.

Saat ini saya seperti didalam simpang jalan. For love or money.Kadang-kadang saya berbisik dalam hati: "I swear this is my last reproductive health business that I do", tapi saya juga ngeri gimana kalau pekerjaan-pekerjaan mendatang banyak dibidang ini sementara saya juga belum terlalu ahli dalam bidang pengendalian penyakit infeksi. Satu-satunya jalan adalah saya akan berusaha mengerjakan tugas ini sebaik-baiknya dan selama 3 bulan disana saya berjanji saya akan tetap belajar epidemiologi penyakit iinfeksi.




Rabu, 22 Desember 2010

Ich Träume Mich zu dir

Feeling missing something...

Wieder ist ein brief von dir gekommen,
Wieder hast du eine sonne drauf gemahlt,
Ich hab´ die sehnsucht anfangs
Gar nicht ernst genommen,
Doch heute nacht, das weiss ich,
Lieg ich wieder wach.

Ich träume mich zu dir nach süden,
Träume mich zu dir ans meer,
Denn träume sind wie kleine züge,
Sie fahren dir hinterher.
Wieder ging ein tag ohne dich vorüber
Wieder hab´ ich, was ich auch tat,
An dich gedacht.
Ich nähm´ am liebsten morgen früh
Den ersten flieger,
Es hat mir niemals vorher so viel ausgemacht.

Ich träume mich zu dir nach süden,
Träume mich zu dir ans meer,
Denn träume sind wie kleine züge,
Sie fahren dir hinterher.

Ich träume mich zu dir nach süden,
Träum´ mich in dein herz hinein,
Die träume sagen dir "komm´ wieder",
Wir war´n lang genug schon allein.
(Roy Black)

Für t

Minggu, 14 November 2010

Don Juan De Marco

There are only four questions of value in life, Don Octavio?
What is scared?
What is the spirit made?
What is worth living for?
What is worth dying foe?
The answer to each is the same :

ONLY LOVE

Don Juan De Marco

Jumat, 30 Juli 2010

Happy Little Thing

Bangun pagi jam 9.30 (hah rekor tersiang saya bangun selama saya di Eropa sini). Gara-gara nya dua malam sebelum nya saya tidur hampir jam 4 pagi dan terbangun jam 6 pagi. Alasan klasik, nesis..Well padahal yang dihasilkan adalah hanya 2 halaman pembahasan tesis. Terlalu banyak distraksi, alasan saya kenapa saya begitu lambat bekerja: facebook, jurnal-jurnal psikiatri, buku-buku pengembangan diri dan beberapa hal yang nampak lebih menarik daripada membahas tesis. Belum lagi alasan yang dibuat-buat seperti : aduh panas banget diluar, silau dikamar saya ; cuaca nya nggak banget deh, masak tadi panas terus sekarang dingin banget, "saya bosen banget disini' dsb. Yah tapi bener kata orang cukup tidur (8 jam lebih) bikin badan seger :).

Got my hair done, perfect !! (sempet2 nya menata rambut dengan seksama :D), put on make-up, perfume..Perfect.. Pergi ke kampus menyerahkan kuosioner yang mesti diisi. Makan siang di Mensa (kantin kampus raksasa), kebetulan kemarin makanan nya cocok dilidah. Pulang dari Mensa hujan cukup deras, alhasil mesti sudah memakai payung, rambut yang susah payah ditata hancur berantakan. Well, that's life..sometimes it's a mess :)

Pergi ke kota (halah kesan nya saya tinggal di kampung banget). Beli sembako, maksudnya beli stok mi instan. Ah ternyata sudah hampir seminggu saya nggak makan mi instan lho, yah it was such an achievement for me :D.

Pulang ke kos-an, ditemani seorang teman didunia maya yang sudah beberapa hari ini setia menemani chatting di skype. Mendengar keluhan dia tentang tesis nya yang belum mendapat supervisor membuat saya bersyukur saya kuliah di Uni Heidelberg, semuanya saya rasa cukup smooth..Kembali mengerjakan tesis, sambil berasap. Yah tekanan-tekanan ini membuat saya kembali bersahabat dengan marlboro menthol. I know, it's not a healthy living..tapi saya bukan pecandu berat kok (membela diri), dan wait di Jerman 30% dokter merokok (membela diri juga). Ah tapi stok rokok marlboro made in Indonesia saya habis :(, dan susah nya disini tidak ada warung, jadi mesti berjalan 7 menit baru menemukan mesin penjual rokok. Lumayan. Tapi saya benci rokok eropa, karena mesti bermerk sama, tapi rasanya seperti membakar kertas saja. Namun karena kepepet, tidak ada pilihan lain yah terpaksa dihisap juga.

Kembali menekuni jurnal-jurnal tentang dengue dan juga desentralisasi kesehatan Indonesia. Oh tiba-tiba saya pengen mendengarkan lagu Italia. Putar You Tube dan terputar lah lagu That's Amore. Saya tiba-tiba mendapat inspirasi : saya harus pergi ke Napoli begitu tesis ini sudah saya kumpulkan, no mater what. Ditemani lagu-lagu Italia saya bermimpi pergi ke Italia lagi musim panas ini. Ajaibnya hal itu membuat saya cukup produktif bekerja.

Kembali terdistraksi, kali ini teringat akan film seri TV jadul Remington Steele yang belum berhasil saya tonton secara streaming disini. Setelah ratusan kali mencoba akhirnya tadi malam saya berhasil mendapatkan link yang bisa saya tonton. Eureka, rasanya seperti dapet lotre (lebay mode on).

Saya pun kembali semangat mengerjakan tesis, hal-hal kecil seperti kemarin cukup membuat saya bahagia. Malam nya saya tidur jam 4 pagi lagi, tapi pagi ini saya bangun tanpa merasa sakit kepala. Saya tahu alasan nya : karena saya BAHAGIA.

Minggu, 11 April 2010

Keajaiban - Melihat Kuasa Tuhan


Frankfurt, Medio Juli 2009

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam. pada pukul 14.00 pesawat yang saya tumpangi akhirnya mendarat juga di Frankfurt International Airport. Sebuah perjalanan yang lain dari biasanya, karena kali ini tujuan perjalanan ku adalah demi menuntut ilmu di negeri asing dan jauh dari ibu dan ayah yang selalu mendukung dan mendampingi. Masih dengan jet lag, aku segera menuju counter pengambilan koper..alhamdulillah tidak ada masalah. Di ruang tunggu bandara, saya bisa segera mengenali sesosok wajah cantik yang baru kali itu saya temui..Jeng Popi Puspitasari, sesama DAAD fellow juga. Alhamdulillah, saya bersyukur selalu ada teman-teman yang bersedia bersusah-susah menolong saya. Selanjutnya kami menuju Frankfurt Hauptbahnhof untuk mengejar kereta ke Mannheim.

Di salah satu stasiun kereta tersibuk di Eropa ini, dimulailah babak kehidupan baru saya yang penuh drama di Jerman sini. Dengan luggage seberat 25 kg dan tas punggung berisi komputer dan ijazah asli dari SD, kami bergegas menuju mesin penjual tiket. Akhirnya tiket menuju Mannheim ada ditangan, saya berlari menuju kereta super cepat yang akan segera berangkat. Saying goodbye dan mengucapkan terimakasih pada Popi yang sudah mengantar, saya segera mencari tempat duduk di kereta. Oh but wait, kok serasa ada yang kurang dan barang bawaan saya kok terasa ringan. Oh my God, tas punggung berisi laptop dan ijazah-ijazah itu tertinggal di atas trolley di dekat mesin penjual tiket di Frankfurt Hauptbahnhof. Panik mulai melanda, saya melirik ponsel saya..no power at all. Tidak mungkin memberhentikan kereta tentu saja, stasiun terdekat yang akan disinggahi adalah Darmstadt yang berjarak 30 menit lagi. Keringat mulai mengucur deras dan saya mulai berpikir keras,apa yang harus saya lakukan.. Alternatif pertama saya bertekad kembali ke Frankfurt sesampainya kereta ini ke stasiun terdekat. Alternatif kedua menelepon Popi untuk mengambil tas saya di stasiun, oh tapi ponsel saya mati total :(..Tapi ini adalah alternatif yang paling logis, karena saya tidak mau berpikir bahwa tas saya hilang dan saya kehilangan ijazah dari SD hingga Magister saya.

Karena opsi nya adalah segera menelepon Popi, saya bertekad untuk segera menemukan telepon. Meminjam telepon adalah satu-atunya cara, dengan gugup dan hampir menangis, saya mendekati seorang penumpang di dalam kereta untuk meminjam ponsel nya. Subhanallah, pria muda ganteng itu bersedia meminjamkan ponselnya dan berkata selahkan pakai. Oh ternyata tidak semua orang Jerman dingin dan tidak bersahabat pada orang asing.Uups, alhamdulilah saya masih menyimpan no telepon Popi dalam secarik kertas. Setelah mencoba berkali-kali akhirnya saya mengirimkan sms pada Popi dengan harapan Popi segera membukanya.

Menit-menit itu adalah salah satu menit yang paling menegangkan dalam hidup saya, berharap masih ada keajaiban untuk saya. Sepuluh menit kemudian, saya mencoba menghidupkan ponsel saya, akhirnya ternyata masih bisa hidup dan SMS dari Popi masuk dan berisi " Jeng Vit, don't worry tas nya masih selamat diatas trolley, gw bawa pulang dulu ya"..Ooh itu adalah salah satu SMS yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Kalau memungkinkan saya ingin segera bersujud syukur disitu, but I could not speak at all kecuali mengucapkan alhamduliilahirobilalamin ribuan kali. Tuhan sayang sekali sama saya. Saya membayangkan kalau kejadian itu terjadi di Indonesia atau bahkan negara-negara lain. Atau mungkin juga jika kejadian itu terjadi di Jerman juga tapi saya sedang tidak beruntung.

Sesampainya di Mannheim, ada senior yang sudah menanti untuk mengantar ke tempat saya bakal tinggal selama di Mannheim. Lagi-lagi saya bersyukur, banyak yang sayang sama saya. Bahkan sang senior ini meminjamkan communicatornya untuk saya berkomunikasi selama tas saya masih di Frankfurt.

Jika ingat kejadian itu, saya masih pucat untuk membayangkannya. What if..what if..Bahkan ketika saya menceritakan kejadian ini pada teman-teman Jerman saya, mereka berkata kamu sangat beruntung. Bahkan di negara se aman Jerman pun, jika ada tas tergelatak seperti itu sangat mungkin mengundang orang jahat untuk mengambilnya. Saya cuma bisa berkata sekali lagi Maha Besar Tuhan.

Mannheim, Agustus 2009

Di dalam toko Asia yang tidak nyaman, saya sedang berbelanja beberapa kebutuhan. Sebelum masuk saya sudah mengecek dompet, semua nya lengkap. Ketika akan membayar, saya mengeluarkan dompet ternyata dompet nya tidak ada. Mencari-cari ke sekeliling toko, si dompet tidak diketemukan. Saya kembali ingin menangis, karena didalam dompet itu ada paspor, ATM, Kartu Kredit, sampai SIM Indonesia. Lapor polisi, lapor bank untuk memblokir rekening dan kartu kredit, kemudian saya menelepon ibu saya sambil menangis. Ibu saya cuma bisa bilang yang ikhlas dan istigfar kepada Tuhan. Sepulangnya dirumah, saya cuma bisa berdoa dan dalam kepasrahan saya berbisik pada Tuhan, ya Tuhan tolong sekali ini lagi mudah kan lah urusan saya (itu malam Ramadhan pertama).

Dua hari kemudian ketika sedang belajar dalam kelas, ada pengumuman bahwa ada yang menelpon ke Goethe Institut bahwa telah ditemukan dompet lengkap dengan berbagai macam kartu dan paspor didalamnya, rupanya didalam dompet itu ada juga alamat Goethe Institut. Lagi-lagi saya mengucapkan syukur, dalam kesucian Ramadahan lagi-lagi saya mendapatkan keajaiban dan dapat melihat kuasa Tuhan.

Melihat kejadian beberapa bulan yang lalu, saya jadi teringat nenek saya yang sudah sepuh. Sebelum saya berangkat ke Jerman beliau keukeuh untuk menyelenggarakan pengajian dan syukuran di kampung, dan saya pun keukeuh mencibir dalam hati menganggap enteng makna syukuran itu. Saya masih ingat juga kata-kata yang terlontar dari bibirnya pada para undangan, dia memohon agar didoakan supaya selama berada di luar negeri saya selalu disayang banyak orang. Begitu sederhana permintaan nya. Begitu juga ketika saya berpamitan padanya, sambil menangis dia berkata mudah-mudahan di Jerman banyak yang menyayangi saya. Dan saya sekarang bisa berkata, alhamdulillah Bu selama saya disini semua orang sayang sama saya. Semua teman yang saya kenal disini dari berbagai macam ras dan bangsa sayang dan peduli pada saya, dalam suka dan duka. Subhanallah, disini saya banyak belajar banyak tentang kehidupan. Dan janji Tuhan ternyata selalu benar, siapa yang menanam dia yang menuai. Subhanallah.